04
Feb
09

PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN; kisah tentang feminisme

film-perempuan-berkalung-so

Film “PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN” adalah film “berbau” religi kedua yang disutradarai Hanung Bramantyo. Sama halnya dengan Ayat-ayat Cinta, film ini diangkat dari novel, bedanya novel Perempuan Berkalung Sorban bukan novel best-seller dan temanya bisa dikatakan bertolak belakang. Seperti yang diakui oleh Hanung, film ini merupakan pembayaran hutang pada penonton perempuan, dimana pada film Ayat-ayat Cinta (AAC) tema poligami diangkat dalam bingkai indah, sementara pada film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) digambarkan perjuangan perempuan dalam melawan penindasan kaum Adam.

Kisah dalam film ini bertemakan cinta dan perjuangan seorang perempuan melawan budaya patriarki di lingkungan tempat ia dibesarkan. Tokoh sentral dalam film ini adalah Annisa (Revalina S.Temat), puteri seorang kyai (Joshua Pandelaki) pesantren Salafiyah di Jawa Timur yang konservatif. Di sini dikisahkan bahwa Annisa dibesarkan dalam lingkungan puritan yang memegang teguh agama dengan cara yang ekstrim. Sebagai perempuan yang cerdas, ia merasakan diskriminasi gender yang membuat jiwanya berontak.

Hanya satu orang yang mampu mengerti jiwa Annisa, yaitu Khudori (Oka Suntara), paman jauh Annisa dari pihak ibu. Dari sana timbul perasaan cinta antara Annisa dan Khudori. Faktor kedekatan hubungan darah antara Khudori dan kyai Hanan, ayah Annisa, membuat Khudori harus mengubur perasaannya. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Kairo.

Diam-diam Annisa mendaftar kuliah di Jogja dan diterima, namun ayahnya tak mengizinkan. Ia malah dinikahkan dengan Syamsudin (Reza Rahadian). Pernikahan inilah yang membuat hidup Annisa tambah menderita. Jiwa feministnya seperti mendapat tantangan yang paling maksimal. Kekerasan dalam rumah tangga yang ia alami digambarkan dalam film ini dengan intens, melibatkan kekerasan fisik dan mental. Tak hanya perlakuan kasar, Syamsudin menambahnya dengan kenyataan bahwa ia telah menghamili wanita lain, Kalsum (Francine Roosenda). Bisa ditebak, Annisa terpaksa harus menerima dipoligami.

Pada suatu kesempatan Annisa kembali dipertemukan dengan Khudori. Annisa menumpahkan keluh kesahnya dan penderitaannya pada laki-laki itu. Mereka ternyata masih menyimpan perasaan yang sama. Annisa berniat untuk bercerai dengan suaminya untuk menggapai cintanya. Lagi-lagi masalah timbul. Syamsudin mengetahui kebersamaan istrinya dengan Khudori. Mereka dituduh telah berzinah dan terancam hukuman rajam.

Film bertema feminisme bukan hal yang baru. Apalagi gambaran tentang KDRT yang banyak ditonjolkan dalam industri perfilman kita, terutama dalam sinetron. Yang beda dari PBS adalah film ini mengambil setting pesantren, dan mengangkat isu agama. Kisah yang diangkat dari novel karya Abidah El Khalieqi ini bagi beberapa orang mungkin cukup controversial. Namun bagi penikmat film akan menganggap film ini tak beda jauh dengan film-film seperti Berbagi Suami atau sinetron-sinetron yang menampilkan “pahlawan” perempuan yang menderita. Novelnya sendiri bisa dikatakan ingin meminjam semangat Nawal El Saadawi (bahkan nama sang pengarang pun agak mirip) penulis novel asal Mesir yang memang feminist dan kontroversial. Untuk menjadi kontroversial agaknya sudah agak susah di era reformasi ini, dimana kelompok agama semakin inklusif dan moderat. Lagipula tak semua wanita di lingkungan puritan yang patriarkal merasa menderita dengan hidupnya. Untuk mengetahui hal itu lebih jauh mungkin diperlukan penelitian lebih lanjut.

Feminisme dalam film ini tampil menyolok mata, digambarkan dengan jelas sebagaimana sebuah buku yang ditulisi “buku”. Tokoh Annisa diposisikan sebagai pahlawan bak Ibu Kita Kartini. Dipertegas dengan pemakaian sorban dan mengendarai kuda pada opening dan closing. Anehnya kekuatan jiwa itu mendadak luntur di hadapan cinta nafsu, dan ketidakmampuan menanggung derita. Dari kisah ini kita menangkap “emosi” dan egoisme khas wanita, yang menjadikan film ini dramatis dan subyektif. Di sini kita bisa menangkap pesan dari sang pengarang cerita bahwa inilah pandangan saya. Agak memaksakan ideologinya, memang. Kalau kita bandingkan dengan ‘Vanity Fair’ karya W.M. Thackeray, PBS adalah kebalikannya. Dalam Vanity Fair disebutkan bahwa ini adalah novel “without a hero or heroine”, sementara PBS menempatkan Annisa sebagai pusat universe sebagai alter ego sang pengarang sendiri. Tidak salah untuk membuat novel atau film seperti itu, namun untuk standar film festival hal tersebut dapat merusak keindahan dan kenaturalan sebuah cerita/film. Untuk masalah ini Hanung perlu berlajar banyak dari Garin Nugroho.

PBS juga sedikit mengingatkan saya pada film A Scarlett Letter, diangkat dari novel juga, yang dibintangi Demi Moore. Kisah yang mengangkat tema penderitaan perempuan dalam lingkungan puritan. Demi Moore dinilai gagal memainkan perannya yang membuat penonton justru membencinya alih-alih mendapatkan simpati. Tokoh Annisa berpotensi demikian, untunglah ia diperankan oleh Revalina S. Temat, dengan wajah melankolisnya mampu mengundang simpati penonton, khususnya saya.

Para pemain sudah cukup berusaha berakting sebaik mungkin. Namun lagi-lagi Hanung melakukan kesalahan seperti yang ia lakukan di AAC. Banyak pemain yang berakting tanpa memperhatikan setting cerita. Tak terdengar logat Jawa dalam kalimat-kalimat yang diucapkan Reva dan Widyawati misalnya. Kesan seadanya jadi muncul.

Perlu juga diusahakan agar film tampil senatural mungkin. Bolehlah Reva tidak bisa menunggang kuda, mbok ya diganti sama stuntgirl agar tidak kelihataan bohongannya, kalau tak ada waktu untuk latihan. Adegan Annisa menunggang kuda bagi saya salah satu yang cukup mengganggu. Kesan wanita kuat yang ingin ditampilkan jadi aneh.

Saya tidak akan mengomentari hal-hal yang bersifat teknis lebih jauh. Sebagai hiburan, cukuplah film ini memenuhi rasa haus penonton yang ingin menyaksikan lagi film model AAC. Dari lima bintang saya akan memberikan dua.

Walaupun dapat dikategorikan sebagai film drama biasa, film ini memberi alternatif lain bagi penonton fim nasional yang bosan dengan film horor atau percintaan remaja.

About these ads

0 Responses to “PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN; kisah tentang feminisme”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: