21
Dec
08

KAMPANYE DEMOKRASI SEBAGAI SALAH SATU STRATEGI HUMAS INTERNATIONAL AS

PENDAHULUAN


Demokrasi dan kedaulatan rakyat dalam menentukan nasibnya sendiri, merupakan salah satu impian terpenting umat manusia. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang terbaik, memiliki kemampuan untuk berupaya dan berikhtiar serta memiliki hak untuk masa depan individu dan sosial mereka sendiri. Salah satu cara yang dianggap mampu menjadi jalan untuk mencapai masa depan yang lebih baik adalah dengan menerapkan demokrasi. Kata demokrasi mempunyai banyak sekali pengertian, yang ada kalanya pengertian tersebut berbeda satu sama lain. Salah satu pengertian yang sederhana dari kata demokrasi bisa kita ambil dari ucapan Abraham Lincoln, bekas presiden Amerika. Menurut Lincoln demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Pemerintahan Amerika berbentuk republik. Presiden, para anggota parlemen dan sebagian pejabat negara penting lainnya, dipilih oleh rakyat. Inilah yang mungkin sesuai dengan pendapat Lincoln, yaitu pemerintahan dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat.

Amerika saat ini lebih gencar mengklaim dirinya sebagai master atau guru demokrasi. Bahkan, dengan menggunakan kekuatan politik dan militernya yang besar, Amerika berusaha memaksakan demokrasi versinya kepada negara-negara lain. Contoh yang terbaru adalah kasus Afghanistan dan Irak. Washington menyerang Irak dan Afghanistan dengan alasan untuk menggulingkan pemerintahan diktator dan mewujudkan demokrasi di kedua negara itu. Tetapi, apakah esensi sebenarnya dari sistem liberal demokrasi yang dianut Amerika dan apakah tujuan Amerika dalam memaksakan paham ini kepada negara-negara lain?

Secara sederhana dapat dikatakan pemerintah AS mengkampanyekan demokrasi demi kepentingan dalam negerinya yang kapitalis. Namun dampak yang harus ditanggung adalah merosotnya citra AS karena bertindak gegabah dengan melakukan serangan besar-besaran ke Afghanistan tanpa disertai bukti-bukti yang kuat terhadap keterlibatan Osama Bin Laden. Hal yang serupa terjadi setelah agresi pasukan AS dan sekutunya ke Irak (Perang Teluk II – Maret 2003), ternyata tidak dapat membuktikan bahwa Irak memiliki senjata nuklir, kimia atau biologi.

Sebagai upaya menanggulangi merosotnya citra AS dan munculnya situasi permusuhan terhadap kebijakan luar negeri AS, pemerintah AS giat menempuh berbagai upaya kehumasan untuk memperbaiki citranya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai upaya kehumasan pemerintah AS dalam kampanye demokrasi yang lebih pada upaya pemulihan citranya di mata dunia internasional, dipandang dari perspektif propagandistik.

 

HUMAS INTERNASIONAL AMERIKA SERIKAT DALAM PERSPEKTIF PROPAGANDISTIK

Upaya Humas Internasional dalam perspektif propagandistik ditujukan untuk menanamkan gagasan-gagasan tertentu ke dalam benak masyarakat pada negara lain atau bahkan pada masyarakat internasional secara keseluruhan. Propaganda dipacu sedemikian kuat, bukan sekedar mengarahkan opini public, tetapi agar dapat mempengaruhi pemikiran, perasaan, serta tindakan pemerintah dan khalayak (public) di negara-negara lain.

Propaganda bisa hanya dirancang/diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang eksklusif (terbatas) dan berjangka waktu pendek. Dapat pula untuk tujuan lebih luas dan strategis yang mencakup perolehan, penguatan, serta perluasan dukungan dari rakyat dan pemerintahan negara sahabat, untuk melaksanakan gagasan tertentu atau untuk menghadapi lawan yang tidak disukainya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai AS yang mempropagandakan dirinya sebagai pelopor dan benteng demokrasi.

Untuk mengkampanyekan demokrasi (apapun agenda yang terselubung di balik itu) ke seluruh dunia bukanlah pekerjaan mudah. Kegagalan AS di Afghanistan dan Irak dalam meyakinkan dunia bahwa apa yang mereka lakukan adalah demi tegaknya demokrasi, membuat mereka harus melakukan upaya public relations yang lebih efektif.

Menurut teori perang Sun Tzu, memenangkan sebuah perang tanpa mengerahkan armada militer adalah kemenangan yang terbaik. Kemenangan ini dapat diraih apabila musuh dapat ditundukkan pemikirannya. Tunduknya pemikiran akan menyebabkan tunduknya seorang manusia kepada manusia lain yang mampu mengubah pemikirannya. Di sini propaganda memainkan peranan yang sangat penting. Propaganda AS mengenai demokrasi memerlukan keterlibatan upaya public relations yang ekstensif, bukan hanya pengerahan militer.

Kampanye demokrasi merupakan salah satu propaganda AS untuk kepentingan dalam negerinya, terutama untuk memelihara, memperbaiki, atau membangun citra positif di mata dunia internasional. Bahkan, dengan menggunakan kekuatan politik dan militernya yang besar, Amerika berusaha memaksakan demokrasi versinya kepada negara-negara lain. Tetapi, apakah esensi sebenarnya dari sistem liberal demokrasi yang dianut Amerika dan apakah tujuan Amerika dalam memaksakan paham ini kepada negara-negara lain? Dalam demokrasi di AS, uang memainkan peran penting. Semakin banyak sumber dana dari para kapitalis dan pengusaha besar yang berhasil diraih oleh seorang kandidat presiden atau kandidat parlemen, semakin cerahlah peluangnya untuk memenangi pemilu. Penguasaan kaum kapitalis dalam pemilu Amerika menyebabkan orang-orang yang sesungguhnya memiliki kelayakan dan kemampuan untuk memimpin, tidak bisa memenangkan pemilu jika mereka tidak memiliki sumber dana yang mencukupi atau tidak ingin bekerjasama dengan para kapitalis. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa demokrasi di Amerika amat diatur oleh para kapitalis. Hanya orang yang dianggap mampu mengamankan kepentingan kapitalis-lah yang diberi laluan untuk melangkah ke Gedung Putih dan Parlemen Amerika. Para kapitalis-lah yang sesungguhnya berkuasa dalam demokrasi AS. Mereka sama sekali tidak memikirkan suara dan pandangan rakyat. Yang terpenting bagi mereka adalah keuntungan diri mereka sendiri. Keserakahan para kapitalis ini pula menyebabkan Washington dengan gencar mempropagandakan demokrasi di dunia internasional. Mereka berharap, dengan cara ini, mereka bisa menginfiltrasi negara-negara lain dan mengeruk keuntungan materi sebesar-besarnya.

Ide demokrasi lebih pada kepentingan globalisasi dan kepentingan pasar Amerika. Demokrasi sifatnya dominasi bangsa-bangsa maju terhadap bangsa-bangsa lemah sehingga mengakibatkan negara-negara maju dengan isu demokrasi yang tidak senang melakukan upaya intervensi terhadap segala bentuk kebijakan dalam negerinya.

Maka tidak mengherankan dana yang dikucurkan untuk kampanye demokrasi oleh AS mencapai ratusan juta dollar. Gagasan yang hendak ditanamkan melalui kampanye yang melibatkan aktivitas PR itu adalah nilai-nilai demokrasi yang menyangkut di dalamnya seperti masalah hak asasi manusia, persamaan gender dan toleransi antar umat beragama.

 

TEKNIK PROPAGANDA AS

Dr. Aaron Delwiche mengklasifikasikan tujuh teknik propaganda:

Word Games
      Name-calling
             Labeling people, groups, institutions, etc in a negative manner
      Glittering generality
             Labeling people, groups, institutions, etc in a positive manner
      Euphemisms
             Words that pacify the audience with blander meanings and connotations
False Connections 
      Transfer
             Using symbols and imagery of positive institutions etc to strengthen acceptance
     Testimonial
             Citing individuals not qualified to make the claims made
Special Appeal
      Plain Folks
             Leaders appealing to ordinary citizens by doing “ordinary” things
      Band Wagon
            The “everyone else is doing it” argument
      Fear
            Heightening, exploiting or arousing people’s fears to get supportive opinions and actions.

 

Contoh teknik propaganda yang dipergunakan AS dalam mengkampanyekan demokrasi

Name Calling: AS menyatakan dirinya sebagai negara demokratis, “USA Champion of Democracy”, “Welfare States”, juga “Peace Loving States” (Cinta Damai). Sementara di lain pihak AS menyebut Iran, Irak dan Korea Selatan sebagai “poros setan”, karena dianggap tidak mengusung nilai-nilai demokratis.

Glittering Generality: Slogan “Menjunjung tinggi hak asasi manusia, Persamaan Gender, Pluralisme, Dunia bebas yang memerangi terorisme,” dll merupakan upaya AS guna membentuk opini public mengenai pentingnya nilai-nilai demokrasi agar dunia “menjadi lebih baik” yang di lain pihak dapat dipahami sebagai justifikasi kebijakan luar negeri AS yang kontroversial serta memojokkan pihak lain dengan cara halus.

Transfer: Washington menyerang Irak dan Afghanistan dengan alasan untuk menggulingkan pemerintahan diktator dan mewujudkan demokrasi di kedua negara itu.

Testimonial: Amerika senantiasa mengkritik dan bersikap miring terhadap Iran dengan mengatakan bahwa Iran tidak melaksanakan demokrasi. Misalnya, ketika Iran akan melaksanakan pemiliham umum anggota Parlemen bulan Februari lalu, Amerika dan media massa barat dengan gencar mempropagandakan bahwa rakyat Iran sudah tidak lagi menghendaki sistem pemerintahan Islam. Namun, ketika rakyat muslim Iran tidak mempedulikan propaganda ini dan dengan antusias mendatangi kotak-kotak pemungutan suara serta memilih kandidat mereka secara bebas, pejabat Gedung Putih, termasuk George W. Bush, terang-terangan menyatakan pemilu itu tidak sah dan menyatakan kekecewaan mereka atas hasil pemilu Iran.

Plain Folks: AS melalui USAID mendanai siaran anak-anak Sesame Street yang diindonesiakan menjadi Jalan Sesama. Siaran ini merupakan kampanye demokrasi dini terhadap anak-anak Indonesia dan membentuk citra positif AS di mata anak-anak. Contoh lain adalah mendirikan stasiun TV berbahasa arab Al Hurra untuk menyiarkan citra positif AS di mata pemirsa Timur Tengah.

Band Wagon: AS menyebut demokrasi adalah solusi bagi perdamaian dunia.

Fear: AS menyebarkan isu terorisme dengan memanfaatkan media massa untuk menguatkan ketakutan masyarakat dunia dan menggiring opini public akan pentingnya dunia bebas terorisme dengan tegaknya demokrasi.

 

KAMPANYE HUMAS AS

Ruang lingkup fungsi kehumasan (Public Relations) dan tujuan program humas adalah menyangkut citra (image). Mulai dari upaya menumbuhkan citra, memelihara atau mempertahankan citra, sampai ke upaya meningkatkan citra (agar lebih baik atau lebih tinggi dari yang sudah ada) dan memperbaiki citra (bila ada gangguan terhadap citra atau ada peristiwa yang membuat citra itu merosot) atau mengembalikan citra yang baik dan positif. Hal berikutnya dalam fungsi kehumasan adalah membentuk atau membangun pendapat umum (public opinion).

Public relations pada dasarnya adalah manajemen persepsi. Selain biro humas pemerintahannya (Public Affair), AS memerlukan jasa biro-biro humas profesional untuk membantu “menjual perang”, “menjual nilai-nilai demokrasi” dan lain sebagainya yang pada dasarnya adalah membentuk persepsi untuk menjustifikasi segala kebijakan luar negerinya. Semasa Perang Dingin berlangsung kampanye demokrasi jauh lebih mudah dilakukan karena adanya satu musuh bersama: Komunisme. Fungsi humas lebih pada menumbuhkan, memelihara dan meningkatkan citra. Propaganda demokrasi AS bisa dikatakan cukup berhasil dengan runtuhnya komunisme Uni Sovyet. Runtuhnya komunisme di Uni Sovyet membuat AS mencari musuh baru yang dianggap sebagai ancaman, yaitu Islam fundamental.

Islam Fundamental yang semasa perang dingin merupakan mitra AS melawan komunisme serta merta dituding sebagai ancaman bagi kelangsungan demokrasi dan perdamaian dunia. Segala macam teknik propaganda digunakan dalam menjatuhkan citra kalangan Islam Fundamental serta pihak-pihak lainnya yang dipandang sebagai penentang kebijakan AS.

Demokrasi juga digunakan untuk menjustifikasi penyerangan terhadap Irak, sebuah pemerintahan sosialis yang tidak lagi mendukung kepentingan AS. Irak yang kaya minyak dan agresinya ke Kuwait adalah alasan yang bagus untuk memulai perang. Saat itu firma-firma public relations professional dikerahkan untuk menjustifikasi perang, menjual citra AS sebagai pembela demokrasi dan polisi dunia.

Tragedi WTC/ 11 September 2001 adalah titik tolak AS untuk melancarkan propaganda “war against terrorism” yang pada dasarnya perang melawan kalangan Islam Fundamentalis (baca: kalangan Islam yang tidak mau tunduk pada kepentingan AS) dan pemerintahan non demokrasi (baca: pemerintahan yang tidak mau tunduk pada kepentingan AS). Penyerangan ke Irak dan Afghanistan melibatkan upaya public relations yang masif, dibantu oleh media massa. Upaya ini ditujukan untuk membentuk opini publik bahwa pemerintahan tragedi WTC merupakan pelanggaran HAM berat yang didalangi Osama Bin Laden yang kebetulan mendapat perlindungan dari pemerintahan Taliban yang menganut Islam garis keras dan karenanya tidak sesuai dengan demokrasi ala Amerika Serikat. Demikian pula saat AS hendak menyerang AS, opini publik digiring untuk mempercayai bahwa pemerintahan Saddam Hussein tidak demokratis, diktator berbahaya, mempunyai kaitan dengan tragedi WTC, memiliki senjata nuklir dan pelanggar HAM berat.

Persepsi dibentuk sedemikian rupa sehingga masyarakat dunia mempercayai bahwa pemerintahan Taliban di Afghanistan pantas digulingkan. Film-film dokumenter, buku-buku dan artikel dibuat untuk menunjukkan betapa wanita Afghanistan mendapat perlakuan yang tidak adil. Upaya Public Relations yang sarat propaganda juga ditampilkan salah satu channel Televisi AS yang menampilkan renovasi patung Budha raksasa yang pernah dihancurkan oleh Taliban, renovasi yang didanai berbagai pihak itu mengandung pesan bahwa pemerintah Taliban tidak menghargai perbedaan agama. Bentuk pemerintahan yang meniru kekhalifahan ini dipersepsikan sebagai anti demokrasi, tidak menghormati HAM dan pantas digulingkan, apalagi mereka melindungi seorang tersangka teroris yang ironisnya merupakan mitra AS saat melawan komunis Sovyet, yaitu Osama Bin Laden.

Segala upaya Public Relations AS rupanya tidak serta merta mengangkat citra AS di mata dunia Internasional. Kebohongan dalam upaya Public Relations adalah kecerobohan yang berbalik merugikan AS. Invasi ke Irak dan Afghanistan tanpa bukti-bukti memadai justru menjatuhkan citra AS dan berpotensi menggagalkan kampanye demokrasinya. Perang Teluk II justru membuat gerakan kiri baru yang sosialis mendapat popularitas tak terduga. Demokrasi ala AS dianggap gagal dan tidak mampu membuat negara-negara pengadopsinya menjadi lebih makmur atau sejahtera, bahkan hanya menumbuhkan kerusakan moral di kalangan masyarakat penganutnya. Pasca jatuhnya Saddam Hussein pemimpin-pemimpin sosialis macam Fidel Castro, Hugo Chavez dan Muammar Qaddhafi menjadi lebih populer dan karenanya ide ide sosialisme mulai dilirik kalangan muda karena dianggap sebagai solusi menghadapi dominasi kapitalisme AS. Sebaliknya, negara-negara yang dituding oleh AS sebagai tidak demokratis justru tengah mempraktekkan demokrasi seperti Iran yang pada pemilu terakhir memenangkan Mahmoud Ahmadinejad sebagai kepala negaranya.

Setelah kegagalan AS pasca perang teluk II, AS berupaya untuk memperbaiki citranya yang memburuk. Propaganda demokrasi yang terlanjur basi mesti diperbaiki lagi melalui aktivitas public relations yang lebih ekstensif. Di Timur Tengah, AS menggunakan media seperti televisi dalam menyampaikan nilai-nilai demokrasi ala AS-nya. Salah satu upaya yang dilakukan public affair AS yaitu mendirikan stasiun telivisi berbahasa Arab Alhurra, yang berarti “Satu Yang Bebas” untuk menyaingi jaringan televisi berbahasa Arab seperti Al-Jazeera dan Al-Arabiya yang dituduh Washington memicu ketegangan di kawasan.

Peluncuran Alhurra pada Hari Valentine “mengembangkan nilai-nilai demokrasi dan kebebasan” bukan merupakan satu kebetulan, tetapi bagian dari satu kampanye AS untuk menjangkau hati dan pendapat Timur Tengah. Adalah lebih nyata secara rasional mengembangkan nilai-nilai tersebut melalui argumentasi dan contoh-contoh dibanding dengan menggunakan kekuatan militer. Perusahaan induk Alhurra, BBG, mengatakan, dalam peluncuran jaringan yang bermarkas di luar Washington tersebut bahwa siaran itu ditujukan bagi memperbaiki pandangan atas Amerika Serikat.

AS juga memberikan bantuan dana pada sejumlah media, mulai dari penerjemahan buku-buku sampai bantuan bagi sejumlah radio dan tv, ke lebih dari belasan negara Islam. Acara Sesame Street dalam versi bahasa Arab, kini menjadi acara paling populer di televisi Mesir. Dalam acara itu disisipkan pesan-pesan yang menekankan pentingnya toleransi agama.

Sementara di luar kawasan Timur Tengah, AS melakukan kampanye demokrasi dengan berbagai macam cara mulai dari kegiatan sosial sampai program dukungan tata kelola pemerintahan. Kampanye demokrasi ini berkaitan erat dengan penyebaran nilai-nilai pluralisme, persamaan hak, persamaan gender, penegakan HAM, perdagangan bebas, kebebasan berekspresi dan berpendapat yang diantaranya mencakup kebebasan pers. Nilai-nilai di atas memang terdengar indah walaupun tujuan di baliknya adalah menyebarkan nilai-nilai yang mendukung kebijakan AS. Kampanye demokrasi menjadi alat untuk menghapus nilai-nilai lama yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh AS. Yang disebut nilai-nilai lama bisa jadi salah satunya adalah fundamentalisme agama (kata lain untuk nilai-nilai Islam). Maka tidak mengherankan banyak dana AS yang dikucurkan untuk mendukung kegiatan dan penelitian bagi kalangan Islam moderat atau liberal. Islam moderat dianggap lebih kooperatif dan lebih mudah menerima nilai-nilai yang disodorkan AS, dan yang paling ekstrem dapat menjadi tameng AS dalam menghadapi kalangan Islam garis keras.

Kegiatan Public Relations AS dalam mendukung propaganda demokrasi adalah yang paling kompleks. Melalui upaya PR ini AS berupaya memulihkan citranya yang terpuruk. Strategi Public Relations AS yang gencar adalah penunjang utama dalam propaganda demokrasi demi keuntungan yang lebih besar dari sekedar pemulihan citra. Public Relations terbukti mempunyai dampak yang besar. Secara tidak langsung para praktisi PR itu bertanggung jawab atas jatuhnya korban perang atau terkikisnya nilai-nilai agama dan tradisi di suatu negara. Bagaimanapun juga pemerintah kita mesti melakukan upaya Humas Internasional atau kontra propaganda untuk menjaga nilai-nilai demokrasi yang lebih sesuai dengan kondisi sosio cultural negara kita sendiri, jangan sampai menjadi pengikut buta suatu paham yang disodorkan oleh negara lain yang belum tentu cocok bagi masyarakat kita.

 

 KESIMPULAN

Cara atau teknik yang berlandaskan perspektif propagandistik lazim digunakan untuk kepentingan memperbaiki citra atau sebaliknya guna merusak citra pihak lain. Demokrasi adalah propaganda yang cukup berhasil untuk menjustifikasi invasi AS ke Afghanistan dan Irak. Melalui upaya public relations, perang teluk II ditampilkan sebagai pembebasan bukan penyerangan. Namun upaya PR yang disertai kebohongan adalah kesalahan fatal yang merugikan AS pada akhirnya. AS menyerang Afghanistan dan Irak tanpa bukti-bukti yang memadai membuat dunia sadar akan adanya agenda tersembunyi di balik kedua aksi militer itu. Pasca perang Teluk II, citra AS merosot tajam dan kampanye demokrasi dianggap basi.

Propaganda demokrasi AS saat ini dipahami sebagai upaya menggiring dunia internasional untuk mengusung nilai-nilai yang sama dengan AS sehingga mengakomodasi kepentingan kapitalis AS. Untuk itu diperlukan rencana strategi Public Relations yang tepat. Strategi Kehumasan Internasional AS pasca Perang Teluk II pada dasarnya merupakan upaya pemulihan citra. Kampanye Demokrasi adalah propaganda yang memerlukan upaya Public Relations yang tepat, bukan dengan pengerahan militer atau mengumbar kebohongan yang terbukti justru mencoreng wajah AS sendiri.

Saat ini kampanye demokrasi AS lebih banyak ditekankan pada upaya-upaya Public Relations yang lebih menekankan pada penyebaran gagasan damai yang berhubungan dengan kemanusiaan, lingkungan hidup, persamaan hak, persamaan gender, pluralisme dan penegakan HAM yang meliputi kebebasan berekspresi dan berpendapat. Organisasi bantuan mereka, US Agency for International Development (USAID) menjadi ujung tombaknya. Organisasi ini memberikan bantuan ke sekitar 24 negara Islam seperti Mesir, Pakistan dan Kyrgyzstan. Pemerintah AS pun melakukan propaganda besar-besaran ke negara-negara Arab, melalui pemikiran-pemikirannya bahkan artis-artis yang mereka bayar. Mereka ingin berusaha menembus dunia Arab melalui internet, musik, komik dan puisi. Ini terlihat dari bagaimana AS membiayai Radio Sawa, radio musik dan informasi, kemudian TV satelit Alhurra yang keduanya ditujukan bagi masyarakat Arab.
Dari apa yang telah penulis ulas dalam bab sebelumnya, dapat dikatakan bahwa Public Relations dibantu dengan media massa merupakan kekuatan yang mendukung suatu upaya membangun atau memperbaiki citra. Public Relations memiliki fungsi manajemen persepsi. Dan AS merupakan salah satu negara yang memanfaatkan upaya-upaya public relations secara maksimal demi kepentingannya.

Ditulis & dikembangkan oleh CommunicaTeam dari berbagai sumber:

Artikel Enver Masud “Aiding democracy everywhere”, http://www.twf.org, dan majalah IMPACT International.

Cutlip, Scott M. (2006), Effective Public Relations, Edisi kesembilan, cetakan ke-1, Jakarta: Kencana, 2006.

Delwiche, Dr. Aaron, Propaganda Analysis, Propaganda Critic Web site, School of Communications, Washington University, March 12, 1995.

Rudy, Drs. T. may (2005), Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Internasional, cetakan pertama, PT Refika Aditama,Bandung, 2005.

http://kammi.or.id/last/lihat.php?d=materi&do=view&id=78

http://swaramuslim.net/more.php?id=A668_0_1_0_M

http://www.kammi.or.id/last/lihat.php?d=materi&do=view&id=171679)

http://www.lp3es.or.id/direktori/fund/usaid.htm

http://www.kapanlagi.com/h/0000000544.html

http://www.usaid.gov/


0 Responses to “KAMPANYE DEMOKRASI SEBAGAI SALAH SATU STRATEGI HUMAS INTERNATIONAL AS”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: