21
Dec
08

Korupsi dalam syariat Islam

Islam diturunkan Allah SWT adalah untuk dijadikan pedoman dalam menata kehidupan ummat manusia baik dalam berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Tidak ada sisi yang tidak teratur dalam Islam. Aturan atau konsep itu bersifat “mengikat” bagi setiap orang yang mengaku “muslim”. Konsep Islam juga bersifat totalitas dan komprihensif, tak boleh dipilah-pilah seperti yang dilakukan kebanyakan rezim saat ini. Mengambil sebagian dan membuang bagian lainnya, adalah sikap yang tercela dalam pandangan Islam (Q.S. Al-Baqoroh: 85).

Salah satu aturan Islam yang bersifat individual, adalah mencari kehidupan dari sumber-sumber yang halal. Islam mengajarkan kepada ummatnya agar dalam mencari nafkah kehidupan, hendaknya menempuh jalan yang halal dan terpuji dalam pandangan Syara’. Pintu-pintu rezeki yang halal terbuka sangat luas, tidak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang awam, bahwa dizaman modern ini pintu rezeki yang halal sudah tertutup rapat dan tak ada jalan keluar dari sumber yang haram. Anggapan ini amat keliru dan pesimistik. Tak masuk akal, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya mencari jalan hidup yang bersih sementara pintu halal itu sendiri sudah tidak didapatkan lagi. Alasan di atas lebih merupakan hilah (dalih) untuk menjustifikasi realitas masyarakat kita yang sudah menyimpang jauh dan menghalalkan segala cara.

Korupsi aialah penyalahgunaan atau menggelapkan uang/harta kekayaan umum (negara, rakyat atau orang banyak) untuk mepentingan pribadi. Praktek korupsi biasanya dilakukan oleh pejabat yang memegang suatu jabatan pemerintah.

Dari keterangan diatas, dapat diartikan bahwa korupsi adalah pekerjaan yang diharamkan karena termasuk memakan harta orang lain dengan cara tidak sah.

Dalam pandangan Islam, korupsi, mencuri, suap, dan sejenisnya sangat dilarang dan haram hukumnya. Bahkan Allah SWT mengutuk mereka yang melakukan korupsi, sebagaimana dinyatakan dalam firmannya:
“Hai orang-oarang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rosul-Nya (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (Q.S. Al-Anfal: 27).

Rosulullah SAW bersabda yang artinya:
“Barang siapa yang kami pekerjakan pada suatu jabatan, kemudian kami beri gaji, malahan yang diambilnya selebih dari itu, berarti suatu penipuan” (HR. Abu Daud). Rosulullah SAW juga mengingatkan: “Rosulullah SAW melaknat otang yang menyuap, dan yang menerima suap dan yang menjadi perantara” (HR. Ahmad dan Hakim).

Berdasarkan isyarat Al-Qur’an dan Sunnah Rosulullah SAW tersebut, jelas sekali bahwa tindak korupsi (KKN) sangat merugkan rakyat, merugikan perekonomian dan keuangan negara. Merendahkan martabat manusia dan bangsa di mata Allah SWT maupun bangsa-bangsa lain di dunia. Karena sangat membahayakan, maka Isalam melarang kita untuk mendekatinya.

Islam menawarkan beberapa konsep mencegah (terapi) terhadap terjadinya korupsi (Isa, 2006). Pertama, meningkatkan iman dan taqwa serta budaya malu. Dengan iman dan taqwa setiap orang meyakini bahwa ia selalu diawasi oleh Allah SWT. Rosulullah SAW mengingatkan: “Iman dan malu kawan seiring, bila salah satu (iman) terangkat, malunya juga hilang” .
Kedua, meningkatkan kualitas akhlak. Ini sendi keutuhan bangsa. Rosul SAW diutus salah satu tugas beliau adalah memperbaiki akhlak manusia. Syauqi Bey dalam salah satu syairnya: “Suatu bangsa tetap utuh dan jaya selama masih menjaga akhlaknya, namun bangsa itu akan hancur bersama kehancuran akhlaknya”.
Ketiga, penegakan hukum. Hukum harus tegas, tanpa diskriminasi dan adil terhadap siapa pun yang melanggarnya.

Keempat, teladan dari pemimpin. Hendaknya pemimpin memberi teladan kepada yang dipimpin dan rakyatnya. Perbuatan, perkataan dan sikap yang baik harus dimulai dari pemimpin yang paling tinggi.

Menurut Muhammad Nuh Menteri Komunikasi dan Informatika dalam khotbah Hari Raya Idul Adha di Masjid Istiqlal, Jakarta kemarin (Kompas 9/12/2008). Penting sekali menumbuhkan budaya keteladanan. “Hidup ini ibarat sekolah, di dalamnya ada proses belajar-mengajar, demikian juga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”.

“Ada anak bangsa dan guru bangsa, yaitu pemimpin formal maupun informal. Guru bangsa tidak hanya mengajarkan bagaimana menghadapi dan meyelesaikan masalah, persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk di dalamnya tata krama dalam berinteraksi antarguru bangsa, tetapi harus memberi contoh nyata”.

” Hanya orang-orang yang memiliki komitmen, integritas, kepribadian dan pikiran serta jiwa tercerahkan yang dapat memberi kecontoh-teladanan”.

Kelima, pengamalan syariat Islam secara kaffah. Syariat Islam merupakan terapi untuk menaggulangi berbagai problematika ummat. Setiap orang beriman dan bertakwa akan menjaga dirinya dari setiap kesalahan (dosa). Dia tidak hanya taat kepada Allah SWT dan Rosul-Nya, tapi juga taat atas perintah dan larangan. Ia juga patuh kepada hukum positif yang berlaku, baik KUHP maupun UU Nomor 31 tahun 1999 jo UU Nomor 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi.
Terakhir, pastikan semua orang yang beriman kepada Allah SWT sepakat bahwa korupsi merupakan kejahatan yang membuat rakyat sengsara dan memburamkan masa depan negeri. (junot)

PENULIS:
MOHAMAD JUNAEDI
KRU TAZAKUR LDK IMMNI


0 Responses to “Korupsi dalam syariat Islam”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: