21
Feb
09

MENGAPA PENAMPILAN “IMUT” LEBIH MENARIK?

               Mickey dulu dan sekarang               

Saat Mickey Mouse menjadi makin baik dari tahun ke tahun, penampilannya menjadi makin muda. Gambar Mickey Mouse berkembang dari waktu ke waktu, ukuran kepalanya menjadi makin besar, demikian pula ukuran matanya. Semua ini menunjukkan peremajaan.

Mengapa Disney membuat perubahan macam ini? Jawabannya karena bentuk yang “imut”, lucu, dan muda lebih disukai.

Kecenderungan ini dapat menjawab pertanyaan mengapa komik dan animasi Jepang (Manga) begitu booming di negeri kita, menggusur komik local dan komik superhero AS seperti Batman dan Superman. Tokoh-tokoh dalam Manga digambarkan dengan tampilan yang imut, mata besar, hidung kecil, rambut tebal, dan tokoh dewasa kadang memiliki tampilan yang tidak bisa dibedakan dengan anak kecil. Selain Manga dari Jepang, komik Eropa yang lebih dulu eksis di Indonesia juga menggunakan konsep yang sama. Komik Belgia seperti Asterix, menampilkan tokoh-tokohnya dengan tampilan kecil, imut, bermata besar, dengan kaki dan tangan yang pendek.

Kepopuleran komik dan animasi Jepang memicu industri komik dan animasi dunia untuk meniru konsep mereka, walaupun perusahaan animasi besar seperti Disney dan Warner Bros seperti telah kita ketahui telah menggunakan konsep ini selama bertahun-tahun. Serial TV Anime Batman misalnya, kini dibuat lebih “remaja”. Tokoh Batman dan lainnya ditampilkan lebih imut dan simple. Di Indonesia sendiri trend Manga mempengaruhi gaya komik kita menjadi lebih sederhana, tidak seperti komik bergaya realistik yang kita temukan pada komik-komik tahun 80-an.

Ahli Biologi telah menghabiskan waktu mencoba mempelajari bentuk tampilan apa yang menarik bagi orang dan binatang. Menurut salah satu pakar perilaku hewan terkemuka, Konrad Lorenz, tampilan muda memicu “mekanisme pelepasan dari dalam” untuk menyayangi dan rasa ingin memelihara pada manusia dewasa. Kegunaan respon ini jarang dipertanyakan lagi; kita memelihara bayi untuk menjaga spesies manusia. Banyak hewan secara kebetulan memiliki bentuk tampilan yang juga serupa bayi manusia tapi tidak manusia dewasa. Lorenz berpikir bahwa karena kemiripan ini, kita memelihara dan menyayangi hewan peliharaan dan mengagumi hewan liar. Bila dibandingkan lagi, sebagian besar kita lebih menyukai hewan yang lebih “imut” dibandingkan hewan dengan tampilan garang. Misalnya, anjing pudel lebih menarik dibandingkan seekor Bulldog. Atau hamster lebih disukai dibandingkan tikus rumah.

Tokoh-tokoh protagonis baik hewan ataupun manusia dalam komik atau animasi umumnya digambarkan dengan tampilan muda dan imut. Kenshin Himura dalam anime Samurai X yang sangat populer memiliki tampilan muda dan mirip perempuan padahal dia adalah seorang jago pedang. Sekumpulan hewan yang buas bahkan ditampilkan dengan karakter ramah dan imut dalam Winnie The Pooh.

 samurai x

Dalam psikologi komunikasi hal ini berkaitan dengan pengelolaan image untuk membentuk persepsi yang merangsang perubahan kognisi dan afeksi (bahkan perilaku) pada audiens. Seorang samurai yang pekerjaannya “membunuh” dalam Samurai X dapat lebih disukai atau lebih mudah diterima karena faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya. Ini menguntungkan pembuat komik untuk mempopulerkan karakter yang dalam dunia nyata akan sulit memperoleh simpati. Bagus dalam pengertian penjualan komik, namun buruk dalam penanaman persepsi bahwa “berkelahi dengan pedang itu keren” atau bahkan “imut”!

 

Di luar dampak negative penggunaan konsep imut dalam komik dan animasi dewasa terhadap kognisi anak-anak, kita bisa menjadikannya untuk hal yang berguna. Dalam kampanye “selamatkan hewan liar”, penggambaran hewan seperti orang utan, harimau jawa, atau gajah yang imut dalam komik atau animasi akan lebih efektif pada sebagian besar audiens dibandingkan bentuk tulisan atau seminar yang “membosankan”. Mengekspos foto-foto bayi binatang juga dapat merangsang afeksi audiens. Suatu perburuan hewan liar akan benar-benar dianggap sebagai sebuah kejahatan yang nyata, bukan sekedar masalah merusak “populasi” yang “terdengar” biasa saja. Visualisasi memiliki kekuatan pengaruh yang besar pada audiens, apalagi jika dikelola atau dikonstruksi sedemikian rupa.(comteam)

Daftar Pustaka:

-Stephen Jay Gould, Mickey Meets Konrad Lorenz, “Natural History” (May 1979)

-Jalaludin Rakhmat, “Psikologi Komunikasi” (1985)


0 Responses to “MENGAPA PENAMPILAN “IMUT” LEBIH MENARIK?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: